News

WUJUDKAN SENYUM SEHAT MENYELURUH : PEMERINTAH TARGETKAN INDONESIA BEBAS KARIES 2030

7 0
Read Time:8 Minute, 57 Second

WHAT’S THE ISSUE?

Kesehatan gigi dan mulut sering kali diabaikan oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia beranggapan masalah pada gigi tidak menyebabkan kematian sehingga tak menjadi prioritas untuk dijaga kesehatannya. Salah satu permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang kerap dijumpai di masyarakat adalah karies gigi. Karies gigi merupakan penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, mulai dari permukaan gigi meluas ke arah pulpa. Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi yang cukup tinggi dialami di Indonesia dengan prevalensi lebih dari 80%. Untuk menekan jumlah tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2015 menargetkan anak Indonesia usia 12 tahun bebas kariesdi tahun 2030 mendatang. Keputusan ini mendapat dukungan dari pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat. Salah satu program yang dijalankan untuk mencapai target tersebut adalah dengan menggalakkan upaya promotif untuk menyikat gigi dengan baik dan benar dan memberdayakan dokter dan terapis kesehatan gigi di Unit Kesehatan Sekolah dan puskesmas yang tersebar hingga ke pelosok Indonesia. Diharapkan dengan adanya program ini, 2030 mendatang, generasi penerus bangsa tidak lagi mengalami persoalan yang kerap disepelekan ini.

MENILIK KONDISI KARIES GIGI DI INDONESIA

 Karies gigi merupakan masalah yang penting pada anak sekolah karena selain menimbulkan rasa sakit, tetapi juga menyebarkan infeksi ke bagian tubuh lainnya sehingga menyebabkan produktivitas menurun. Hal ini menimbulkan gangguan konsentrasi belajar, mempengaruhi nafsu makan, mengurangi presensi kehadiran di sekolah hingga mengganggu pertumbuhan gizi anak. Hal ini disebabkan timbulnya lubang pada gigi hingga menembus jaringan pulpa dan menimbulkan rasa tidak nyaman pada saat pengunyahan makanan. 

        Karies gigi disebabkan oleh endapan plak gigi pada permukaan gigi. Frekuensi dan waktu asupan karbohidrat yang dapat difermentasi, yang akan dimetabolisme oleh bakteri tertentu, seperti Streptococcus mutans, menyebabkan fermentasi dan karenanya menghasilkan asam dalam jumlah yang banyak sehingga menurunkan pH lokal ke tingkat dimana mineral enamel dan dentin larut. 

        Beberapa negara di Asia Tenggara dengan angka karies anak yang tinggi adalah Filipina dan Indonesia (World Health Organization, 2022). Persentase prevalensi karies anak di Indonesia mencapai 92,6% (Kemenkes RI, 2018). Penyakit karies gigi menempati peringkat ke enam dari penyakit yang sering diderita. Hal ini ditunjukkan oleh data bahwa 91,1% penduduk Indonesia sudah menyikat gigi, namun hanya 7,3% yang berperilaku benar dalam menyikat gigi. 

          Berdasarkan hasil data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyebutkan bahwa proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi rusak/berlubang/sakit (45,3%). Data riskesdas juga menunjukkan prevalensi karies gigi pada anak usia 3-4 tahun sebanyak 81,1%, pada usia 5-9 tahun sebanyak 92,6% dan pada usia 10-14 sebanyak 73,4%. Setengah dari 75 juta anak-anak di Indonesia mengalami karies gigi dan jumlahnya semakin bertambah dari tahun ke tahun. Resiko anak-anak terkena karies cukup tinggi dikarenakan anak-anak suka jajan makanan dan minuman sesuka hati sesuai keinginannya (Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes RI, 2018).

UPAYA DALAM WUJUDKAN INDONESIA BEBAS KARIES 2030

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2015 menargetkan anak Indonesia usia 12 tahun bebas karies (gigi berlubang) di tahun 2030 mendatang. Langkah awal untuk mewujudkan Indonesia bebas karies tahun 2030 adalah dengan melakukan upaya promotif dan preventif terkait pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Menurut Prof. Eriska (Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran), upaya ini menggeser upaya sebelumnya yang lebih menekankan aspek tindakan/kuratif. Dengan pergeseran ini, penekanan upaya kini lebih berfokus pada aspek pencegahan dan promotif. Adapun upaya promotif dan preventif yang dilakukan antara lain sebagai berikut.

1. Edukasi Pentingnya Pemberian Fluoride

Fluoride  memiliki kemampuan luar biasa dalam mencegah karies. Pemberian fluoride dibagi menjadi dua macam, yaitu sistemik dan topikal. Pemberian fluoride secara sistemik dilakukan melalui konsumsi makanan dan minuman yang mengandung fluoride dan kalsium. Sedangkan pemberian fluoride secara topikal dilakukan melalui pemberian oleh tenaga profesional maupun mandiri dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.

2. Upaya Kesehatan Gigi Masyaraka (UKGM)

UKGM adalah kegiatan pelayanan kesehatan gigi yang diselenggarakan di masyarakat dengan bimbingan Petugas Kesehatan Gigi Puskesmas yang memiliki sasaran Balita, Ibu Hamil, dan Masyarakat. UKGM merupakan strategi inovatif untuk memfasilitasi masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan gigi yang mungkin terabaikan karena berbagai faktor seperti kebutuhan akan promosi dan pencegahan lanjutan, kendala waktu dan ekonomi, serta untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan gigi yang ada di masyarakat. Melalui pendekatan ini, tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan aksesibilitas dan kualitas pelayanan kesehatan gigi, serta mendorong masyarakat untuk lebih proaktif dalam merawat kesehatan gigi mereka. Hal ini diharapkan dapat menciptakan potensi awal menuju pencapaian derajat kesehatan yang optimal, dengan dukungan dari tenaga profesional kesehatan di tingkat desa.

3. Inovasi KARTINI (Kartu Sakti Animasi Gigi)

Kartu sakti animasi gigi ini adalah kumpulan kartu kwartet yang berukuran 10 cm × 8 cm yang berisikan sebuah animasi gambar dan suatu penjelasan terkait anatomi gigi sulung, permanen, patofisiologi karies serta penyakit periodontal, juga cara meningkatkan oral hygiene. Kartu ini merupakan salah satu inovasi UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) dalam upaya promotif dan preventif yang dirancang sebagai media belajar dan bermain anak. Setiap kartu memiliki gambar dan penjelasan yang berbeda-beda, dengan tema dan posisi gigi yang berbeda pula. Keunggulan kartu ini adalah desainnya yang lucu dan minimalis, menarik bagi anak-anak, serta tidak membuat bosan karena dirancang agar nyaman dan menyenangkan dalam pembelajaran. Diharapkan kartu ini dapat membantu mengurangi prevalensi karies gigi pada anak-anak.

4. Layanan Teledentistry

Teledentistry adalah layanan alternatif yang menggabungkan bidang kedokteran gigi dengan teknologi dan telekomunikasi yang melibatkan pertukaran informasi klinis dan gambar jarak jauh untuk konsultasi gigi dan perencanaan perawatan. Salah satu pemanfaatan teledentistry yaitu untuk mendeteksi karies gigi. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel SJ, et al.(2016), mengatakan bahwa teledentistry dapat digunakan untuk mendeteksi karies gigi dalam upaya memberikan perawatan secara dini untuk mencegah keparahan lebih lanjut (Chairunissa, et al, 2022).

Selain dilakukan upaya promotif dan preventif perlu dilakukan pula penguatan kapasitas SDM di bidang kedokteran gigi. Seluruh mahasiswa, khususnya profesi kedokteran gigi harus dibekali berbagai kompetensi yang dibutuhkan saat terjun ke masyarakat. Penguatan kapasitas SDM tersebut dilakukan dengan pembekalan sebelum terjun ke masyarakat, pembaruan ilmu pengetahuan baru, hingga penyebaran tenaga medis yang merata.

KONTRIBUSI MASYARAKAT UMUM DALAM MENCAPAI INDONESIA BEBAS KARIES 2030

Masyarakat umum dapat berkontribusi dalam mencapai Indonesia Bebas Karies 2030 melalui berbagai cara antara lain sebagai berikut.

  1. Mengikuti program edukasi pemberian fluoride

     Masyarakat umum dapat mengikuti program edukasi pemberian fluoride yang dilakukan sebagai bagian dari program Indonesia Bebas Karies 2030

  1. Mengikuti pemeriksaan gigi secara berkala

        Pemeriksaan gigi secara berkala pada anak usia sekolah dapat dilakukan ke dalam program Unit Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah upaya kesehatan masyarakat yang ditujukan untuk memelihara, meningkatkan kesehatan gigi dan mulut seluruh peserta didik di sekolah binaan yang ditunjang dengan upaya kesehatan perorangan berupa upaya kuratif bagi individu (peserta didik) yang memerlukan perawatan kesehatan gigi dan mulut.

  1. Mengikuti program pengisian Rapor Kesehatan Gigi dan Mulut dan Kartu Menuju Gigi Sehat

         Dari pemeriksaan gigi secara berkala, data status kesehatan gigi akan di isi ke dalam Rapor Kesehatan Gigi dan Mulut. Dalam rapor tersebut juga terdapat table kontrol periilaku menyikat gigi pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur yang diparaf oleh orang tua. Oleh sebab itu, untuk dapat mencapai target Kemenkes tersebut, pemeriksaan disarankan untuk dapat dilakukan pada tahun ini 2018 sehingga anak-anak yang baru lahir akan berusia 12 tahun pada tahun 2030 dan anak sekolah dasar kelas 1 akan berusia 18 tahun. Perlu dilakukan sosialisasi terhadap Kartu Menuju Gigi Sehat (KMGS) dan Rapor Kesehatan Gigi dan Mulut sehingga Indonesia Bebas Gigi Berlubang pada tahun 2030 dapat diwujudkan.

  1. Mengikuti program pengembangan teknologi kesehatan gigi

           Saat ini juga telah berkembang sejumlah teknologi dan perangkat yang memudahkan dalam melakukan perawatan gigi. Mulai dari produk perangkat lunak kecerdasan buatan untuk proses diagnosis maupun tindakan, sikat gigi pintar, layanan teledentistry, hingga layanan media augmented reality.

DAMPAK KARIES JANGKA PANJANG

Karies merupakan penyakit gigi dan mulut yang menduduki posisi teratas yang paling sering diderita oleh masyarakat Indonesia. Anak usia sekolah terutama Sekolah Dasar merupakan kelompok yang paling rentan mengalami karies gigi dan sebagian besar karies tersebut tidak dirawat. Karies gigi yang tidak dirawat berhubungan dengan gangguan kualitas hidup seperti adanya rasa nyeri pada mulut, kesulitan mengunyah atau memakan makanan yang keras, susah tidur, ketidakhadiran di sekolah dan kesulitan dalam berkonsentrasi di kelas. Anak dengan karies gigi memiliki dampak kualitas hidup yang lebih buruk daripada anak tanpa karies gigi. Dampak yang ditimbulkan akibat karies gigi yang dialami anak-anak akan menghambat perkembangan anak sehingga akan menurunkan tingkat kecerdasan anak, yang secara jangka panjang akan berdampak pada kualitas hidup masyarakat. Peningkatan kesehatan gigi dan mulut harus dimulai sedini mungkin, karena pada balita dan anak-anak prasekolah merupakan faktor yang sangat penting untuk pengaturan pertumbuhan gigi lebih lanjut (Asman. M, 2023).

KESIMPULAN

Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi yang cukup tinggi dialami di Indonesia dengan prevalensi lebih dari 80%. . Berdasarkan hasil data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyebutkan bahwa proporsi terbesar masalah gigi di Indonesia adalah gigi berlubang (45,3%). Untuk menekan jumlah tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menargetkan anak Indonesia usia 12 tahun bebas karies (gigi berlubang) di tahun 2030 mendatang. Langkah awal untuk mewujudkan Indonesia bebas karies tahun 2030 adalah dengan melakukan upaya promotif dan preventif seperti, Edukasi Pentingnya Pemberian Fluoride, Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat (UKGM), dan program lainnya. Masyarakat umum dapat berkontribusi dalam mencapai Indonesia Bebas Karies 2030 melalui berbagai cara, salah satunya adalah mengikuti program pengisian Rapor Kesehatan Gigi dan Mulut dan Kartu Menuju Gigi Sehat. Jika tidak segera ditangani, karies dapat menimbulkan rasa nyeri pada mulut, kesulitan mengunyah, dan masalah kesehatan lainnya. Oleh karena itu, penting bagi kita mendukung program pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Bebas Karies 2030 untuk senyum sehat menyeluruh. 

PENULIS

Adlina Salsabila

Khairunisa Ramdhani

DAFTAR PUSTAKA

Asman, M., 2023. Hubungan Karies Gigi Dengan Kualitas Hidup Pada Anak Sekolah Kelas 5 Dan 6 Di SD Negeri 73 Kendari. JURNAL KESEHATAN DAN KESEHATAN GIGI, 4(1), pp.29-33.

Andriyani., Putri, N. dkk,. 2023. Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Orangtua dalam Pencegahan Karies Gigi Anak di Jakarta Timur. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, Vol. 19(1).

Chairunissa, R.T., Astoeti, T.E. and Panjaitan, C.C., 2022. Pemanfaatan Teledentistry Untuk Deteksi Karies Gigi Di Masa Pandemi COVID-19: A Scoping Review. Jurnal Kedokteran Gigi Terpadu, 4(1).

Putri, Rizky. dkk., 2017. Hubungan Cara Menggosok Gigi terhadap Kejadian Karies Gigi pada Anak Usia Sekolah di SD Negeri 06 Kecamatan Pontianak Utara. Pontianak. Universitas Tanjungpura.

Ramayanti, S. dkk., 2018. Optimalisasi Rapor Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Derajat Kesehatan Gigi dan Mulut dalam Kegiatan Unit Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) pada SD Muhammadiyah Desa Koto Malintang. Padang. Universitas Andalas. 

#HMKGLaterna

#FortiterEtFideliter

#FKUnud

#VivaHippocrates

About Post Author

HMKG FK Unud

HMKG terbentuk secara resmi pada tanggal 29 Desember 2013
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Hi, I’m HMKG FK Unud

HMKG terbentuk secara resmi pada tanggal 29 Desember 2013

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *